BUNTOK – Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan akibat kabut asap, tetapi juga mengancam sektor pertanian, khususnya budidaya tanaman hortikultura yang menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat.
Ancaman tersebut semakin serius ketika kebakaran lahan terjadi bersamaan dengan musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air.
Kondisi ini berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, menurunkan produktivitas pertanian, hingga menyebabkan gagal panen bagi petani di wilayah Barsel.
Anggota DPRD Kabupaten Barsel, Tri Wahyuni, menilai dampak Karhutla terhadap sektor pertanian perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Menurutnya, penanganan Karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pengendalian api dan penanganan kabut asap, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlangsungan usaha pertanian masyarakat.
Ia menjelaskan, petani yang mengandalkan budidaya cabai, tomat, sayuran, dan berbagai komoditas hortikultura lainnya termasuk kelompok yang rentan terdampak kebakaran maupun kekeringan.
Kerusakan lahan dan tanaman akibat kedua kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas pertanian serta mengurangi pendapatan petani.
“Selama ini Karhutla sering dikaitkan dengan asap dan dampak kesehatan. Padahal ada petani yang menggantungkan penghasilan dari lahan hortikultura. Jika tanaman mereka terbakar, maka yang hilang bukan hanya hasil panen, tetapi juga modal usaha dan sumber pendapatan keluarga,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Tri Wahyuni menegaskan, kerugian yang dialami petani tidak hanya terbatas pada hilangnya hasil panen.
Petani juga berisiko kehilangan biaya yang telah dikeluarkan untuk pembelian benih, pupuk, obat-obatan, serta kebutuhan perawatan tanaman. Dampak tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk kembali menanam pada musim berikutnya.
Karena itu, Dia mendorong pemerintah daerah agar memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan Karhutla sekaligus memberikan perhatian terhadap perlindungan lahan pertanian.
“Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan pengawasan kawasan rawan kebakaran, edukasi kepada masyarakat, serta dukungan terhadap ketersediaan air bagi petani selama musim kemarau,”tutupnya
Menurutnya, koordinasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, aparat, dan masyarakat sangat diperlukan agar penanganan Karhutla berjalan efektif. (yen)






